Silapmata.com – Sejak kabar duka menyebar, dunia hiburan dan jagat media sosial di rundung kesedihan. Pada Minggu, 7 Desember 2025, ayah Pratama Arhan, Sutrisno bin Raji, menghembuskan nafas terakhirnya di Blora, Jawa Tengah, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan kerabat. Kehilangan ini tak hanya menyentak dunia sepak bola Tanah Air, tetapi juga menyentuh hati banyak orang yang mengikuti perjalanan hidup Arhan termasuk mantan istrinya, Azizah Salsha.
Tanpa menunda waktu, Azizah memutuskan melakukan perjalanan dari Jakarta ke Blora bersama ibundanya, Nurul Anastasya. Tujuannya sederhana memberikan penghormatan terakhir kepada ayah mantan mertuanya. Kedatangan ini bukan hanya tanda belasungkawa, tetapi juga penggambaran bahwa ikatan kemanusiaan dan rasa hormat bisa tetap terjaga meskipun hubungan pernikahan telah berakhir.
Momen Haru di Rumah Duka
Setibanya di Blora sekitar pukul 12.30 WIB, Azizah dan keluarganya langsung menuju rumah duka. Suasana terasa sangat haru ketika dirinya terlihat menahan air mata, berusaha menenangkan rasa duka yang terasa begitu mendalam. Dalam video yang kemudian viral di media sosial, tampak ibunda Azizah memeluk ibunda Arhan dengan erat sebuah pelukan yang melambangkan empati, rasa kehilangan bersama, dan kehangatan kemanusiaan.
Tak hanya diam di belakang layar, Azizah sendiri menunjukkan empatinya secara langsung. Ia mengulurkan tangan, menggenggam tangan ibu Arhan, memeluk memberikan pegangan emosional dan kekuatan di tengah suasana duka. Tanpa banyak kata, sikapnya berbicara bahwa penghormatan dan kehadiran bisa jauh lebih berarti daripada sekadar kata-kata. Banyak yang terharu melihat sikap dewasa dan tulus tersebut, apalagi mengingat hubungan mereka dulu sebagai pasangan.
Mantan Suami-Istri Empati yang Tetap Terjaga
Bagi sebagian orang, status “mantan suami-istri” sering di identikkan dengan berakhirnya semua ikatan emosional maupun sosial. Namun, kehadiran Azizah pada momen duka ini menunjukkan hal yang sebaliknya. Meskipun Pratama Arhan dan Azizah telah resmi bercerai pada 25 Agustus 2025 setelah dua tahun menikah, empati dan rasa hormat tampaknya masih terjalin dengan baik.
Kehadiran ibunda Azizah bersama putrinya juga menguatkan kesan bahwa kunjungan itu bukan sekadar formalitas atau pencitraan. Mereka datang sebagai manusia yang memiliki empati untuk menghormati kehidupan, menghormati kematian, dan menghormati keluarga yang tengah berduka. Bagi banyak orang, ini menjadi pelajaran bahwa dalam duka maupun suka nilai kemanusiaan dapat melampaui status masa lalu.
Sorotan Publik dan Respons Beragam
Tak bisa di pungkiri bahwa kehadiran Azizah di rumah duka langsung menjadi sorotan publik dan media. Banyak yang memuji sikapnya kepekaan, empati, dan kematangannya dalam menghormati tradisi takziah meskipun hubungan masa lalunya dengan Arhan telah berakhir. Mereka melihat bahwa empati tak mengenal label “mantan”.
Namun, seperti halnya berita publik lainnya, kehadiran Azizah juga memantik beragam komentar sebagian menyoroti penampilannya saat datang ke rumah duka. Beberapa netizen mempertanyakan pilihan pakaiannya, karena dia datang tanpa hijab, mengenakan jaket biru dan celana jeans. Bagi mereka, situasi duka semestinya dirayakan dengan kesopanan tertentu. Tapi ada juga yang membela, mengatakan bahwa yang penting adalah niat dan empati bukan penampilan.
Terlepas dari komentar itu, yang tak bisa di sangkal adalah momen ini mengingatkan banyak orang bahwa rasa kemanusiaan dan empati bisa meredakan jarak sosial, bahkan setelah berpisah. Sikap bijak dan penuh rasa hormat seperti milik Azizah dan keluarganya menguatkan nilai bahwa kemanusiaan patut di junjung tinggi apalagi di saat duka.
Makna dari Sebuah Kehadiran
Kisah ini bukan sekadar tentang duka cita, melainkan juga tentang kemanusiaan. Kehadiran Azizah Salsha di rumah duka mantan mertuanya mengajarkan bahwa rasa hormat, empati, dan kepekaan tidak harus hilang meskipun ikatan formal telah berakhir. Ada kedewasaan di situ kedewasaan untuk menghormati rasa kehilangan orang lain, menghormati kehidupan, dan memelihara martabat seluruh pihak.
Dalam konteks sosial luas, momen seperti ini bisa menjadi pengingat bahwa di tengah kehidupan yang berubah pernikahan, perceraian. Perselisihan manusia tetap bisa bersikap baik, dewasa, dan berempati. Mungkin itu salah satu pelajaran terbesar dari kunjungan sederhana ke rumah duka bahwa kemanusiaan adalah hal paling berharga yang bisa kita tunjukkan di saat suka maupun duka.

