Jule Bongkar Alasan Doyan Selingkuh Vs Kata Pakar Agama Soal Nikah Siri

Jule Bongkar Alasan Doyan Selingkuh Vs Kata Pakar Agama Soal Nikah Siri

Silapmata.com – Isu perselingkuhan kembali menghebohkan jagat hiburan dan media sosial. Kali ini, nama Jule menjadi sorotan setelah pengakuannya soal kebiasaan berselingkuh tersebar luas dan menuai pro-kontra. Tak sedikit publik yang terkejut dengan keterbukaan Jule, sementara sebagian lainnya menilai pengakuan tersebut sebagai bentuk kejujuran yang jarang melakukan figur publik. Di tengah riuhnya respons masyarakat, perbincangan pun melebar hingga menyentuh topik sensitif lain: nikah siri sebagai pembenaran moral.

Fenomena ini menarik perhatian bukan hanya dari sudut pandang gosip, tetapi juga dari aspek sosial dan keagamaan. Banyak yang mempertanyakan, apakah alasan Jule bisa di terima secara moral? Apakah nikah siri dapat di jadikan jalan keluar untuk menghindari dosa perselingkuhan? Untuk menjawabnya, pandangan pakar agama pun menjadi sorotan penting.

Pengakuan Jule yang Menghebohkan Publik

Dalam sebuah wawancara yang viral, Jule secara terbuka mengakui dirinya kerap terlibat dalam hubungan di luar komitmen. Ia menyebut bahwa dorongan emosional dan kebutuhan akan perhatian menjadi alasan utama di balik perilakunya. Menurut Jule, hubungan yang di jalani sering kali terasa hambar, sehingga ia mencari pelarian pada sosok lain yang di anggap mampu mengisi kekosongan batin.

Pengakuan ini sontak memicu gelombang reaksi. Ada yang mengecam keras karena menilai Jule tidak menunjukkan penyesalan, namun ada pula yang mencoba memahami dari sudut pandang psikologis. Di media sosial, perdebatan berkembang panas, membahas apakah kejujuran semacam ini patut diapresiasi atau justru berbahaya karena berpotensi menormalisasi perselingkuhan.

Dalih Emosional dan Normalisasi Perselingkuhan

Jule juga menyebut bahwa perselingkuhan kerap di anggapnya sebagai hal yang “manusiawi”. Ia mengklaim banyak orang melakukan hal serupa namun memilih diam demi menjaga citra. Pernyataan ini memunculkan kekhawatiran baru, karena dinilai dapat menggeser batas moral di tengah masyarakat, khususnya generasi muda yang menjadikan figur publik sebagai panutan.

Pakar hubungan menilai bahwa alasan emosional sering di jadikan pembenaran atas keputusan yang keliru. Jika di biarkan, narasi seperti ini dapat menormalkan perselingkuhan sebagai solusi instan atas masalah rumah tangga atau hubungan. Padahal, akar persoalan sejatinya terletak pada komunikasi, komitmen, dan kedewasaan dalam menyikapi konflik.

Nikah Siri Muncul sebagai Pembenaran Moral

Di tengah badai kritik, muncul argumen dari sebagian pendukung Jule yang menyebut nikah siri sebagai jalan tengah. Mereka beranggapan bahwa selama hubungan di lakukan atas dasar akad, meski tidak tercatat negara, maka hal tersebut di anggap sah secara agama dan tidak termasuk zina. Argumen ini pun ramai di perbincangkan di ruang publik.

Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya di terima oleh semua kalangan. Banyak yang menilai nikah siri kerap di salahgunakan untuk melegitimasi hubungan yang sebetulnya tidak sehat dan tidak adil, terutama bagi perempuan. Alih-alih menjadi solusi, nikah siri justru di nilai membuka celah eksploitasi dan menghindari tanggung jawab hukum maupun sosial.

Pandangan Pakar Agama Soal Nikah Siri

Pakar agama menegaskan bahwa nikah siri memang memiliki dasar hukum dalam Islam jika memenuhi rukun dan syarat. Namun, mereka mengingatkan bahwa keabsahan agama tidak boleh di pisahkan dari kemaslahatan. Dalam konteks modern, pencatatan pernikahan menjadi penting untuk melindungi hak istri dan anak, serta mencegah mudarat yang lebih besar.

Lebih jauh, para ulama menekankan bahwa nikah siri tidak boleh di jadikan alat untuk membenarkan hawa nafsu atau perilaku tidak bertanggung jawab. Jika tujuan utamanya hanya untuk menghindari label selingkuh tanpa komitmen yang jelas, maka esensi pernikahan itu sendiri telah di langgar. Agama, menurut mereka, tidak pernah membenarkan tindakan yang menyakiti dan merugikan pihak lain.