Silapmata.com – Pasangan selebriti populer di Indonesia, Luna Maya dan Maxime Bouttier, baru-baru ini menyampaikan keputusan mereka untuk menunda program kehamilan dan akan mempertimbangkan memulai usaha tersebut pada tahun 2026. Keputusan ini muncul setelah pernikahan mereka pada 7 Mei 2025, dan telah menjadi sorotan publik.
Beberapa media bahkan menulis “Alasan Luna Maya dan Maxime Bouttier Menunda Kehamilan Tahun Depan”. Mengapa mereka memilih menunda? Di bawah ini saya rangkum sejumlah alasan dari pertimbangan emosional, profesional, hingga teknis berdasarkan pernyataan mereka sendiri.
Ingin Memperkuat Hubungan Sebagai Pasangan Dulu
Salah satu alasan utama yang di sebutkan langsung oleh Luna Maya adalah keinginannya untuk terlebih dahulu membangun fondasi kokoh sebagai pasangan. Ia menyatakan bahwa mereka masih “belajar memahami perbedaan pandangan dan kebiasaan” satu sama lain. Dalam sebuah wawancara, Luna menegaskan “Aku nggak mau cepat-cepat (hamil). Makanya, aku bilang pengen tahun depan.
Pengennya kita sebagai couple tuh, solid dulu.” Dengan kata lain bagi Luna dan Maxime, menjadi orang tua bukan hanya soal kehadiran anak, tapi juga soal kesiapan sebagai pasangan kalau mereka belum benar-benar “jelas” sebagai suami-istri, mereka merasa belum tepat menjadi orang tua. Hal ini menunjukkan kedewasaan dalam memandang tanggung jawab yang akan datang.
Jadwal Karier & Pekerjaan Masih Padat
Alasan lain yang cukup pragmatis kesibukan karier. Menurut Luna, tahun 2025 masih di isi banyak proyek syuting film, acara televisi, kontrak kerja yang membuatnya tak ingin terganggu oleh kondisi kehamilan. Dia bahkan mengungkap keinginan untuk menyelesaikan semua proyek sebelum memulai program kehamilan.
“Kalau aku bisa memilih, tahun ini fokus ke hubungan dan pekerjaan dulu, baru tahun depan program hamil,” katanya. Selain itu, dia mengkhawatirkan bahwa jika hamil sambil bekerja keras, kondisi kehamilan bisa menjadi tidak ideal bagi kesehatan dirinya maupun calon bayi.
Persiapan Matang Secara Mental
Meskipun sebelumnya sempat menjalani prosedur pembekuan sel telur (egg freezing), pasangan ini memahami bahwa proses menuju kehamilan tidak seringkas membekukan telur. Ada tahapan dan ketidakpastian yang perlu di hadapi. Luna mengaku ingin memberi waktu bagi dirinya dan Maxime untuk benar-benar siap bukan sekadar secara biologis.
Tapi juga mental dan emosional agar ketika punya anak kelak, mereka bisa memberikan pengasuhan terbaik. Keputusan ini mencerminkan bahwa mereka memandang kehamilan bukan sebagai hal instan, melainkan tanggung jawab besar yang butuh persiapan cermat.
Harapan untuk “Momongan Ideal” Anak Kembar
Meski menunda, bukan berarti mereka mengesampingkan impian punya anak. Justru, Luna mengaku sudah menyiapkan beberapa nama untuk calon anak mereka nama-nama dengan nuansa alam dan makna mendalam. Seperti “Sungai Mengalir” atau “Embun Jernih”. Lebih jauh, Luna juga sempat menyampaikan keinginan agar saat hamil, ia bisa langsung punya anak kembar. Dengan demikian.
Keputusan menunda kehamilan menunjukkan bahwa mereka bukan hanya berpikir soal “segera punya anak”, tapi “ ketika punya. Betul-betul siap dan ideal” dari nama, kondisi keluarga, hingga kesiapan batin. Penting juga di catat meskipun mereka melakukan penundaan resmi, Luna mengaku kalau kehamilan terjadi secara alami di luar rencana dan itu bisa “di terima” sebagai berkah. Dengan kata lain, keputusan ini bersifat fleksibel mereka menunda secara sadar, tetapi tidak menutup kemungkinan jika “takdir” mengatakan lain.