Tasya Farasya Mengaku Legah Setelah Perceraiannya dengan Ahmad Assegaf

Tasya Farasya Mengaku Legah Setelah Perceraiannya dengan Ahmad Assegaf

Silapmata.com – Dalam gemerlap industri hiburan dan sorotan publik, kehidupan pribadi seseorang seperti di pantau terus-menerus termasuk bahagia, sedih, hingga perpisahan. Bagi banyak orang, perceraian berarti luka dan kehilangan; namun bagi Tasya Farasya, perceraian dari suaminya justru membawanya pada perasaan lega dan pelepasan beban besar.

Setelah sekian lama berjuang melalui proses hukum dan konflik emosional, kini ia merasa satu bab telah berakhir, dan bab baru bisa ia mulai dengan kepala lebih ringan. Berita resmi tentang perceraian dan status hukum yang sudah inkrah tidak hanya menutup drama, tetapi juga membuka harapan akan kehidupan yang lebih damai. Berikut ini ulasan lengkap tentang reaksi Tasya, proses yang di lewati, serta harapannya ke depan.

Keputusan Resmi Perceraian Dinyatakan Inkrah

Kelegaan Tasya di mulai dari ketegasan keputusan hukum putusan perceraian dengan Ahmad Assegaf secara resmi di nyatakan inkrah alias berkekuatan hukum tetap. Putusan ini menjadi titik akhir dari proses panjang dari gugatan cerai yang ia daftarkan pada 12 September 2025, hingga beberapa sidang, mediasi, dan dinamika emosional yang memanas.

Menyambut kabar inkrah tersebut, Tasya tak menahan rasa lega. Ia mengungkapkan kepada wartawan bahwa akhirnya semua sudah selesai “lega banget,” katanya. Bagi wanita yang juga di kenal sebagai beauty-influencer itu, status “resmi single” bukan sekadar label, melainkan penanda kebebasan dari beban besar yang selama ini membayanginya.

Dari Kecewa dan Sakit Hati ke Rasa Syukur

Sebelum keputusan resmi, Tasya sempat melalui masa sulit rumor, spekulasi, dan tekanan publik tentang rumah tangganya dengan Ahmad. Ia bahkan memilih rehat dari media sosial untuk memberi dirinya waktu dan ruang untuk pemulihan emosional. Saat perceraian di kabulkan, reaksi Tasya mencerminkan kelegaan dan ketenangan.

Ia menyampaikan rasa syukur (“Alhamdulillah”) atas putusan tersebut, sebagai penegasan bahwa pengajuan gugatannya sesuai harapan. Bukan lagi rasa marah atau sakit hati yang mendominasi melainkan harapan untuk hidup lebih baik. Bebas dari beban emosional dan kebingungan yang selama ini membayangi.

Prioritaskan Tumbuh Kembang Anak Meski Berpisah

Meskipun rumah tangga mereka telah berakhir. Tasya menegaskan komitmennya: ia tidak akan mempersulit Ahmad dalam menjalankan perannya sebagai ayah bagi anak-anak mereka. Hal ini menunjukkan kedewasaan dan tanggung jawab. Bahwa perpisahan bukan berarti pemutusan relasi total, melainkan penataan ulang relasi demi kebaikan anak.

Tasya memahami pentingnya keseimbangan mental dan emosional bagi anak-anak dan ia berupaya agar orang tua tetap hadir dalam hidup mereka tanpa drama. Sikap seperti ini bisa jadi contoh positif bahwa meskipun pernikahan berakhir. Peran sebagai orang tua tetap bisa di jalankan secara dewasa dan bertanggung jawab.

Isu Bisnis dan Dugaan Penggelapan Dana

Cerita perpisahan ini ternyata bukan semata persoalan emosional ada latar belakang. Konflik bisnis yang di klaim menjadi salah satu penyebab utama. Dalam persidangan, di sebutkan bahwa pasangan ini. Menghadapi dugaan penggelapan dana perusahaan senilai miliaran rupiah yang di kaitkan dengan sang suami.

Menurut kuasa hukum Tasya, nilai dugaan penggelapan mencapai Rp 35 miliar dan hingga saat ini. Belum ada pengembalian dana tersebut oleh pihak Ahmad. Konflik finansial semacam ini, di tambah dengan krisis kepercayaan, di yakini sebagai titik rapuh pada hubungan mereka. Dengan putusan cerai inkrah, di harapkan masalah hukum dan ekonomi tersebut bisa di selesaikan secara tegas dan dengan adil. Memberi kesempatan bagi kedua belah pihak memulai lembaran baru.